Breaking

Saturday, 27 February 2016

SUKSES ITU SEPERTI MEMBUKA TUTUP BOTOL

PESAN DARI KETINGGIAN 9753 METER : SUKSES ITU SEPERTI MEMBUKA TUTUP BOTOL MINUM
Oleh : dr. Gamal Albinsaid

Sejak kecil aku sudah menancapkan dalam hatiku untuk menjadi seorang dokter karena 2 alasan utama. Pertama, karena ayahku pernah ingin menjadi dokter, tapi karena satu dan lain hal cita-cita itu harus dipupuskan. Kedua, karena aku kerap kali bertemu almarhum dr. Budi Nurcahyo, Sp.A. Ketika aku berobat kesana dan menatapnya sebagai sosok malaikat penolong dan pemberi harapan yang kerap kali mengobatiku. Profesi itu begitu istimewa di hatiku, karena ketika kamu bekerja, kamu menolong orang, mengurangi beban sakitnya, dan memberikan harapan akan kesembuhan dan masa depan lebih baik. Seperti pepatah arab, “Langkah kaki seorang dokter itu menyembuhkan”. Ya, benar, itu yang kurasakan.

Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah takdirkan aku masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes dengan cukup menggunakan nilai raport. Disana aku memiliki 3 mimpi baru, peneliti, motivator, wirausaha, dan pastinya tetap menikmati mimpiku sebagai dokter.

Mimpi pertamaku, Tatkala aku ingin menjadi peneliti, aku temui mahasiswa dengan karya penelitian terbaik di Universitas Brawijaya, Zulvikar Syam Bani Ulhaq, aku pelajari cara dia menulis, cara dia mengumpulkan data, melaksanakan penelitian, berkonsultasi dengan dosen, dan mental penelitinya. Lalu aku lakukan hal yang sama, dengan pertolongan Allah aku membawa pulang 12 penghargaan ilmiah dari berbagai universitas ternama tidak lebih dari 1,5 thaun. Itu yang terus memotivasiku untuk mengabdi di Universitas dan menjadi seorang dosen.
Mimpi keduaku, menjadi motivator, aku masih ingat persis tatkala aku menjadi ketua Lembaga Kerohanian Islam, aku bersama sahabatku datang ke ruangan dr. Arief Alamsyah Nasution, MARS, aku katakana kepada beliau, “aku ingin menjadi motivator”, dengan penuh kerendahan hati beliau mengajakku tatkala beliau memberikan training motivasi di berbagai tempat dan aku senantiasa ingin hadir, tatkala beliau memberikan training. Aku catat ilmu dan nasehat yang kerap dia berikan. Waktu berjalan, tak ada yang mengundangku, aku “paksa” staf-stafku mendengarkan trainingku. Training pertamu diawali tatkala malam hari, Ketua organisasiku mengatakan pemateri untuk acara besok tidak bisa hadir, dengan penuh kepercayaan diri dan kesiapan menanggung malu, aku menggantikannya. Akhirnya aku rutin memberikan training di semua fakultas di kampusku, mulailah aku singgah di kampus-kampus lain, dan kota-kota lain. 

Akupun tak menyangka, 3 tahun kemudian, perusahaan training yang aku kembangkan memperoleh berbagai kesempatan memberikan training di berbagai penjuru. Tercatat lebih dari 12 negara aku singgahi, mulai rumah menteri, kantor keduataan, berbagai kantor kementrian pusat, gedung MPR, gedung DPR, perusahaan-perusahaan besar seperti Total, Pertamina, Bukit Asam, Astra Internasional, Indocement, dan puluhan kampus. Semua berawal dari keinginanku belajar kepada orang terbaik di dekatku.

Mimpi ketigaku, wirausaha, aku belajar kepada kakakku, Bang Wildan Albinsaid, pengusaha muda yang low profile, high profit. Iya membuka mataku, bahwa tidak cukup menjadi dokter, aku harus menciptakan lompatan kehidupan lewat wirausaha. Karena disana ada kebebasan. Karena kerap kali, kebutuhan kita akan uang membuat kita menutupi keinginan dan mimpi kita yang sebenernya. Kita harus segera selesai dengan urusan uang. Mulai bisnis kerupuk susu bergizi tinggi, bandar tiket, event organizer dan distributorpun aku jamah. Semuanya gagal dan defisit total. Hingga kemudian, dengan pertolongan Allah aku mengembangkan Indonesia Medika. Perusahaan kecil yang membawaku masuk ke Istana Buckingham dan membwa pulang sebuah hadiah mewah kerajaan. Minimal, nanti anakku bisa cerita ke cucuku, Nak, dulu kakekmu di undang ke Istana Kerajaan.Inggris.

Tapi, tentunya aku tetap ingat dengan mimpi yang aku tulis di buku kenangan SD-ku. Dokter. I want to become researcher, entrepreneur, and motivator, but I am still a doctor. Karunia yang aku syukuri, sesekali aku takuti. Karunia ini yang pernah membuat kedua orang tuaku tersenyum lebar dengan penuh kebanggaan. Aku tetaplah seorang dokter yang harus menyentuh pasienku, memberikan harapan, optimisme, perhatian, dan rasa kasih.
Sekarang aku sedang berusaha menjaga Harmony mimpi-mimpiku. Terus belajar menjadi dokter, tapi tetap menjaga mimpi lain tetap terbang tinggi, terbang melampaui kemampuan dan harapanku dan melahirkan mimpi-mimpi besar, baru, dan mengejutkan. Jangan biarkan siapapun membelenggumu, kamu harus liar, bebas, berani, tapi tetap santun. Catat ini baik-baik, kalau kamu tidak mengejar mimpimu, orang lain akan membayarmu untuk mengejar mimpi mereka.

Aku, Gamal Albinsaid di ketinggian 9753 meter ingin berpesan kepada kawan-kawanku, Hikmah dari hal –hal diatas adalah seperti membuka botol minum. Kalau kamu tidak tau caranya kamu akan injak, tendang, tekan, atau bahkan banting. Padahal, kalau kamu tahu, kamu cukup buka tutup botolnya. Jadi untuk mengejar mimpimu, belajarlah, kepada yang piawai. Kalau kamu melihat seseorang sukses, cari tahu rahasia kesuksesannya, lakukan hal yang sama, maka kamu punya peluang besar mendapatkan apa yang dia dapatkan. If you do what he has done, you will get what he has got.

No comments: